Barikade Terakhir: Para Kombatan Yang Keluar Dari Keterasingan

Anarkis Indonesia pada mayday 2019 (Jakarta, Indonesia)

Semenjak pertengahan 2019, ialah tahun mencekal bagi para anarkis di Indonesia, berawal dari Mayday 2019 sebagaimana di Bandung adalah contoh di mana para anarkis “digebuk” habis-habisan, “ditelanjangi” secara brutal, dan di represi bagaikan binatang yang dijinakkan oleh senapan. Tak lama kemudian muncul seruan solidaritas berbentuk audio dengan visual dari cuplikan-cuplikan rekaman tragedi tersebut.  Dengan cepat seruan tersebut bertebaran di media sosial dan memenuhi setiap beranda hingga di unggah oleh para aktivis di Indonesia, ada satu kalimat yang sering diucapkan berulang-ulang,  “Hari ini kami lebam, esok kami menjelma Godam!”, serta judul dari seruan tersebut, yaitu “Tegaklah seperti di awal “.

Seruan tersebut adalah puisi atau karya sastra dari seorang kombatan anarkis yang sangat marah terhadap rezim hari ini di Indonesia. Sebuah bentuk nyata bahwa kata-kata adalah senjata. Untuk hal ini adalah senjata bagi para kombatan anarkis bahwa kalian tidak sendirian.

Dampak dari masifnya gerakan anarkis ketika MayDay 2019 di berbagai kota di Indonesia, adalah pembungkaman, pemberangusan, penggembosan gerakan aksi massa. Bahkan negara dengan sturktur politik serta aparatnya menyerukan bahwa Indonesia melarang anarkisme, serta aksi massa dengan pakaian hitam-hitam adalah hal yang haram di Indonesia saat ini.

Tidak sedikit kawan-kawan yang merasa dirinya ketakutan, tidak sedikit kawan yang merasa dirinya terancam, bahkan tidak sedikit kawan yang merasa mentalnya terganggu akibat tekanan intimidasi dari berbagai pihak. Pelarangan atau pembatasan mengenakan pakaian apa yang kau rasa nyaman ketika aksi adalah sebuah kesalahan. Pembatasan berpikir dalam kebebasan adalah sebuah kesalahan, dilarang membaca, menyimpan atau membicarakan hal-hal anarkisme yang menurut kalian itu adalah kenyamanan itu sebuah kesalahan. Tidak ada hal apapun, siapapun, bagaimanapun yang mampu mengekang kalian atas kebebasan kalian.

Hidup tetaplah hidup, hingga matipun, selama negara masih berdiri dengan segala kebiadabannya, itu semua adalah sebuah kesalahan.

Kawan-kawan yang masih setia di jalan peperangan, anarkisme tetap harus di tegakkan.

Di orde paling baru ini, di Indonesia, adalah hal yang wajib untuk merangkul kembali kawan yang mulai merasa lelah, kawan yang merasa sendirian, kawan yang merasa dirinya diasingkan. Bahwa kalian tidak sendirian, dan jangan merasa takut, karena kalian tetap kombatan anarkis yang siap berperang meski negara mengekang.

2019 adalah bukti bahwa anarkis mulai ditakuti, bahwa kekuatan anarkis juga diakui di Indonesia. Sudah saatnya turun ke jalan, lakukan kerja-kerja swakelola tanpa campur tangan negara, lakukan aksi-aski spontan tanpa struktur yang formal. Karena hari ini lonceng genderang perang sudah dibunyikan. Tabrak semua hal-hal yang kalian anggap salah, teriakan kemarahan kalian kawan.

“Kami sudah muak menjadi tikus yang terus bersembunyi, kami adalah manusia bebas, sudah saatnya kami keluar dengan segala kebebasan kami, kami adalah manusia bebas yang menolak hirarki atas kebebasan kami. Kami adalah Barikade Terakhir untuk kalian pemuja rezim kebiadaban.!”

 

 

Hubungi kami untuk lingkar perkawanan, jalin keterikatan, hancurkan kekuasaan.

 

 

This entry was posted in URGENCY and tagged , , . Bookmark the permalink.